Selasa, 05 Mei 2009

teori kecerdasan tugas psikologi

PERKEMBANGAN INTELLIGENCE QUOTIENT (IQ) REMAJA
DAN PENILAIANNYA BERKAITAN DALAM BIDANG PENDIDIKAN

1. PENDAHULUAN
Perkembangan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. seperti yang dikatakan Van den den Daele (Hurlock : 2 ) bahwa perkembangan adalah perubahan secara kualitatif. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar penambahan beberapa sentimeter pada tinggi badan seseorang atau peningkatan beberapa sentimeter pada tinggi badan seseorang, melainkan suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks. Perkembangan juga diartikan sebagai ”peruibahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya (maturation) yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah)”,
Perkembangan dapat diartikan ” suatu proses perubahan pada diri individu atau organisme, baik fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah) menuju tingkat kedewasaan atau kematangan yang berlangsung secara sistematis progresif, dan berkesinambungan”,(Syamsu Yusuf : 83 ). Dan semua para ahli sependapat bahwa yang dimaksud dengan perkembangan itu adalah suatu proses perubahan pada seseorang kearah yang lebih maju dan lebih dewasa, namun mereka berbeda-beda pendapat tentang bagaimana proses perubahan itu terjadi dalam bentuknya yang hakiki. (Ani Cahyadi, Mubin, 2006 : 21-22).
Hubungannya dengan intelektual (Intelligence) remaja bahwa inteligensi bukanlah suatu yang bersifat kebendaan, melainkan suatu fiksi ilmiah untuk mendeskripsiskan prilaku induvidu yang berkaitan dengan kemampuan intelektualnya. Dalam mengartikan inteligensi (kecerdasan) ini, para ahli mempunyai pengertian yang beragam. Diantaranya menurut C.P. Chaplin (1975) mengartikan inteligensi itu sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif (Syamsu Yusuf : 106).
Sehubungan dengan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah di dalam makalah ini adalah bagaimana proses perkembangan intelelektual remaja hubungannya inteligensinya di dalam proses pendidikan.

2. PERMASALAHAN
Sehubungan dengan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah di dalam makalah ini adalah bagaimana proses perkembangan intelelektual remaja hubungannya inteligensinya di dalam proses pendidikan.

3. PEMBAHASAN
A. Pengertian Intelektual / Intelegensi
Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Menurutnya, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Menurut English & English dalam bukunya " A Comprehensive Dictionary of Psichological and Psychoalitical Terms" , istilah intellecct berarti antara lain : (1) Kekuataan mental dimana manusia dapat berpikir ; (2) suatu rumpun nama untuk proses kognitif, terutama untuk aktivitas yang berkenaan dengan berpikir ( misalnya menghubungkan, menimbang, dan memahami); dan (3) kecakapan, terutama kecakapan yang tinggi untuk berpikir; (bandingkan dengan intelligence. Intelligence =intellect). Bukamennurut kamus WebssterNew Worid Dictionary of the American Language, istilah intellect berarti:
1) kecakapan untuk berpikir, mengamati atau mengerti; kecakapan untuk mengamati hubungan-hubungan, dan sebagainya. Dengan demikian kecakapan berbeda dari kemauandan perasaan,
2) Kecakapan mental yang besar, sangat intellegence, dan
3) Pikiran atau inteligensi.
Jadi istilah inteligensi menurut para ahli mermuskaan intelligensi sebagai "keseluruhan ke-mampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Intelegensi bukanlah suatu yang bersifat kebendaan, melainkan suatu fiksi ilmiah untuk mendiskripsikan perilaku individu yang berkaitan dengan kemampuan intelektual. Dalam mengartikan intelegensi (kecerdasan) ini, para ahli mempunyai pengertian yang beragam.
Deskripsi perkembangan fungsi-fungsi kognitif secara kuantitatif dapat dikembangkan berdasarkan hasil laporan berbagai studi pengukuran dengan menggunakan tes inteligensi sebagai alat ukurnya, yang dilakukan secara longitudinal terhadap sekelompok subjek dari dan sampai ketingkatan usia tertentu secara test-retest yang alat ukurnya disusun secara sekuensial (Standfort revision benet test).
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :
1) Faktor bawaan atau keturunan.
Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.
2) Faktor lingkungan.
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.
Dengan menggunakan hasil pengukuran test inteligensi yang mencakup general (Infomation and Verbal Analogies, Jones and Conrad (Loree, 1970 : 78) telah mengembangkan sebuah kurva perkembangan Inteligensi, yang dapat di tafsirkan anatara lain sebagai berikut:
1) Laju perkembangan Inteligensi pada masa remaja-remaja berlangsung sangat pesat,
2) Terdapat variasi dalam saatnya dan laju kecepatan deklinasi menurut jenis-jenis kecakapan khusus tertentu (Juntika N, 137-138).
Ditinjau dari perkembangan kogninif menurut piaget, masa remaja sudah mencapai tahap operasi formal (operasi = kegiatan-kegiatan mental tentang berbagai gagasan). Remaja, secara mental telah dapat berfikir logis tentang berbagai gagasan yang abstrak dengan kata lain, berfikir operasi formal lebih bersifat hipotesis dan abstrak, serta sistematis dan ilmiah dalam memecahkan masalah dari pada berfikir kongkrit.
Sementara proses pertumbuhan otak mencapai kesempurnaannya dari mulai usia 12 – 20 tahun. Pada usia 16 tahun berat otak sudah menyamai orang dewasa. Sistem syaraf yang memproses infprmasi berkembang secara cepat pada usia ini. Pada masa remaja terjadi reorganisasi lingkaran syarat, lobe frontal, yang berfungsi sebagai kegiatan kognitif tingkat tinggi, yaitu merumuskan perencanaan strategis, atau mengambil keputusan. Lobe frontal ini terus berkembang terus sampai usia 20 tahun atau lebih. Perkembangan lobe frontal ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan intelektual remaja, seperti pada usia 12 tahun walaupun secara intelektual remaja itu termasuk anak berbakat atau pintar. Namun belum bijaksana, maksudnya remaja tersebut mampu memecahkan masalah secara benar, tetapi tidak seterampil remaja yang lebih tua usianya. Yang menunjukkan wawasan atau perspektif yang luas terhadap masalah tersebut (Sigelman & Shaffer, 1995)
Pada periode kongkrit, anak mungkin mengartikan sistem keadilan dikaitkan dengan polisi atau hakim, sedangkan remaja mengartikannya sesuatu yang abstrak, yaitu sebagai suatu aspek kepedulian pemerintah terhadap hak-hak warga masyarakat yang mempunyai interes remaja.
Adapun pembahasan mengenai inteligensi itu secara teknis pada pokoknya dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu :
1) Pembahasan mengenai sifat hakekat inteligensi, dan
2) Pembahasan mengenai penyelidikan inteligensi itu
Hal yang sama lebih bersifat teoritis-konsepsional, sadang hal yang kedua lebih bersifat teknis metodologisnya. Dalam pada itu harus diingat bahwa penggolongan seperti yang dikemukakan itu hanyalah bersifat teknis bukan prinsip. Sebab kedua hal itu pada hakekatnya tidak dapat dipisah-pisahkan dengan tajam. Inti persoalan daripada sifat hakikat inteligensi itu dirumuskan dengan pertanyaan: Apakah inteligensa itu ? Pertanyaan ini justru dalam bentuknya yang demikian itu, menjadi obyek diskusi yang hangat bagi banyak ahli-ahli psikologi, terutama disekitar tahun-tahun 1900-1925. Persoalannya sendiri sudah tua sekali, lebih dari padaitu psikologi itu sendiri, karena hal tersebut telah di bahas oleh ahli-ahli filsafat dan kemudian ahli-ahli biologi sebelum psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri ahli. (J.S.Suriasumantri, 2004 : 122).
Menurut konsepsi inteligensi ini adalah persatuan (kumpulan yang di persatukan) daripada daya-daya jiwa yang khusus. Karenna itu pengukuran mengenai inteligensi juga dapat di tempuh dengan cara mengukur daya-daya jiw khusus itu, misalnya daya mengamati, daya mereproduksi, daya berfikir dan sebagainya. (J.S.S : 2004 : 125). Konsep-konsep yang timbul dari keyakinan, bahwa apa yang di selidiki (di test) dengan testinteligensi itu adalah inteligensi umum. Jadi inteligensi di beri defenisi sebagai taraf umum yang mewakili daya-daya khusus.
B. Penilaian Kecerdasan
“kecerdasan adalah satu kemampuan mental yang sangat umum, diantara hal-hal lainnya, melibatkan kemampuan untuk memberikan alasan, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan yang kompleks, mempelajari dengan cepat dan belajar dari pengalaman” (Gottfredson, 1997a: 13). Dari rentang kemampuan ini, semestinya sudah sangat jelas mengapa kontroversi selalu meliputi bagaimana kecerdasan itu diukur. Cara dimana seorang ahli teori membuat konsep kecerdasan dan pemfungsian mental lebih tinggi sangat mempengaruhi cara mereka mencoba menilainya (Sternberg, 1994). Beberapa psikolog yakin bahwa kecerdasan manusia dapat dihitung dan direduksi sampai satu skor tunggal. Sedangkan yang lainnya berpendapat bahwa kecerdasan memiliki banyak komponen yang harus dinilai secara terpisah. Sedangkan yang lainnya masih mengatakan bahwa sebenarnya masih terdapat beberapa jenis kecerdasan yang jelas, diantara domain pengalaman yang berbeda-beda.
• Asal mula pengujian kecerdasan
Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Tahun 1905 menandai perhitungan yang pertama kali dipublikasikan tentang tes kecerdasan yang dapat dilakukan. Alfred Binet telah merespon untuk mengundang perdana mentri instruksi publik Perancis untuk penciptaan metode pengajaran yang lebih efektif untuk anak-anak cacat secara pertumbuhan. Binet dan koleganya, Theophile Simon yakin bahwa mengukur kemampuan intelektual seorang anak diperlukan untuk merencanakan sebuah program pengajaran. Binet berusaha merencanakan sebuah tes obyektif tentang kemampuan intelektual yang dapat digunakan untuk mengelompokkan dan memisahkan anak-anak yang cacat secara pertumbuhan dari anak-anak sekolah yang normal. Dia berharap tes seperti itu dapat mengurangi reliansi / ketergantungan sekolah pada evaluasi guru yang lebih subyektif, dan mungkin berat sebelah.
Untuk mengukur kemampuan intelektual, Binet mendesain permasalahan sesuai usia atau item-item tes dimana banyak respons anak-anak dapat dibandingkan. Permasalahan pada tes dipilih sehingga mereka dapat dinilai secara obyektif benar atau salah, bisa bervariasi dalam muatan, yang tidak begitu dipengaruhi oleh perbedaan lingkungan anak, dan menaksir penilaian dan pemikiran daripada ingatan dari hafalan (Binet, 1911).
Anak-anak dari berbagai usia dites, dan skor rata-rata untuk anak yang normal pada tiap usia dihitung. Kemudian tiap kemampuan individual anak dibandingkan dengan rata-rata untuk anak seusianya. Hasil tes diekspresikan dalam hal rata-rata usia dimana anak-anak normal mencapai satu skor tertentu. Ukuran ini disebut usia mental (mental age). Misalnya, ketika skor seorang anak sebanding dengan skor rata-rata kelompok anak usia 5 tahun, maka anak itu dikatakan memiliki usia mental 5, tanpa memperhatikan usia kronologisnya yang sebenarnya, jumlah usia sejak dilahirkan.
Terdapat empat ciri-ciri penting dari pendekatan Binet. Pertama, dia menginterpretasikan skor pada tesnya sebagai satu perkiraan tentang kemampuan yang sekarang dan bukan sebagai ukuran kecerdasan yang diperoleh dari pembawaan lahir. Kedua, dia menginginkan skor tes digunakan untuk mengidentifikasi anak yang membutuhkan pertolongan khusus dan bukan untuk menstigma mereka. Ketiga, dia menegaskan bawa latihan dan peluang dapat mempengaruhi kecerdasan, dan dia mencoba mengidentifikasi area kemampuan dimana pendidikan khusus dapat membantu anak-anak yang tidak beruntung. Akhirnya, dia mengkonstruksi tes-nya secara empiris – dia mengumpulkan data untuk melihat jika ini adalah valid – daripada mengikatnya pada satu teori tertentu tentang kecerdasan.
Pengembangan Binet yang berhasil tentang suatu tes kecerdasan memiliki dampak yang sangat besar di Amerika Serikat. Sebuah kombinasi unik peristiwa sejarah dan kekuatan sosial – politik telah mempersiapkan Amerika Serikat untuk sebuah ledakan ketertarikan dalam menilai kemampuan mental. Pada awal abad 20, Amerika serikat adalah sebuah negara dalam keadaan kekacauan. Sebagai hasil ekonomi global, sosial, dan kondisi politik, jutaan imigran masuk ke negara tersebut undang-undang pendidikan universal yang baru membanjiri sekolah-sekolah dengan murid. Beberapa bentuk penilaian dibutuhkan untuk mengidentifikasi, mendokumenkan, dan mengelompokkan imigran dewasa dan usia sekolah (Chapman, 1988). Ketika perang dunia I mulai, jutaan sekarelawan berbaris di stasiun perekrutan. Para perekrut dibutuhkan untuk menentukan siapakah dari orang-orang ini yang memiliki kemampuan untuk cepat belajar dan memiliki kelebihan dari latihan kepemimpinan khusus. Nonverbal baru, tes yang diberlakukan pada kelompok mengenai kemampuan mental digunakan untuk mengevaluasi 1,7 juta orang yang direkrut. Sekelompok psikolog terkemuka, termasuk Lewis Terman, Edward Thorndike, dan Robert Yekes, menanggapi kondisi gawat darurat ketika perang ini dan mendesain tes ini hanya dalam waktu satu bulan (Lennon, 1985).
Salah satu konsekuensi dari program pengujian skala besar ini adalah bahwa masyarakat Amerika datang untuk menerima gagasan bahwa tes kecerdasan dapat membedakan kemampuan kepemimpinan dan karakteristik sosial penting lainnya dari seseorang. Penerimaan ini membawa penyebarluasan penggunaan tes di sekolah-sekolah dan industri. Penilaian nampak sebagai satu cara untuk menyampaikan order ke dalam sebuah masyarakat yang tengah huru hara dan sebagai cara yang murah, demokratis untuk memisahkan orang yang dapat dimanfaatkan dari pendidikan atau latihan kepemimpinan militer dari orang yang tidak dapat dimanfaatkan. Untuk memfasilitasi penggunaan skala luas pengujian kecerdasan, maka para peneliti berusaha menciptakan prosedur pengujian yang dapat diterapkan lebih luas.
• Tes IQ
Meskipun binet memulai penilaian yang distandarisasi tentang kemampuan intelektual di Perancis, namun para psikolog As segera mengambil alih kepemimpinan. Mereka juga mengembangkan IQ, atau Intelligence Quotient. IQ adalah ukuran numerik, distandarisasi dari kecerdasan. Dua keluarga yang melakukan tes IQ secara individual banyak sekali digunakan saat ini; skala Stanford – Binet dan skala Wechsler.
Skala kecerdasan Stanford – Binet
Lewis Terman,Universitas Stanford, seorang administrator sekolah publik, mengapresiasi pentingnya metode Binet untuk menilai kecerdasan. Dia mengadaptasi pertanyaan tes Binet untuk anak usia sekolah AS, dia menstandarisasi administrasi tes, dan dia mengembangkan norma-norma tingkat usia dengan memberikan tes pada ribuan anak-anak. Pada tahun 1916, dia mempublikasikan revisi Stanford mengenai tes Binet, yang asa dirujuk sebagai Stanford – Binet Intelligence Scale / skala kecerdasan Stanford – Binet (Terman 1916).
Dengan tesnya yang baru, terman memberikan satu dasar untuk konsep intelligence quotinet, atau IQ (istilah yang diciptakan oleh William Stern, 1914). IQ adalah rasio antara usia mental dengan usia kronologis dikalikan dengan 100 untuk mengurangi desimal:
IQ = usia mental : usia kronologis x 100
Seorang anak dengan usia kronologis 8 yang nilai tesnya menunjukkan usia mental 10 memiliki IQ 125 (10 : 8 x 100), sementra seorang anak yang memiliki usia kronologis sama menunjukkan ada level usia 6 tahun memiliki IQ 75 (6 : 8 x 100). Orang yang menunjukkan berada pada usia mental yang ekuivalen dengan usia krnologisnya memiliki IQ 100. Sehingga, skor 100 dianggap sebagai skor IQ rata-rata.
Tes baru stanford – Binet segera menjadi instrumen standar di psikologi klinis, psikiater dan konseling pendidikan. Stanford – Binet memuat serangkaian subtes, masing-masing disesuaikan untuk satu usia mental tertentu. Semenjak pertama kali diperkenalkan, Stanford – Binet telah melalui serangkaian revisi (Terman & Merrill, 1937, 1960, 1972; Thorndike dkk, 1986). Melalui revisi tersebut, rentang tes telah diperpanjang untuk mengukur IQ dari anak kecil yang masih sangat muda dan orang dewasa yang sangat cerdas. Tambahan, revisinya telah memberikan norma-norma yang diperbaharui untuk skor rata-rata sesuai usia. Yang terbaru, edisi kelima dari tes Stanford – Binet memberikan perkiraan IQ untuk orang yang berada pada rentang normal kemampuan / performans sama baiknya dengan orang yang terganggu mentalnya atau berbakat secara mental (Roid, 2003).
David Wechsler dari Rumah Sakit Belleveue di New york menyusun sesuatu untuk mengkoreksi ketergantungan pada item-item verbal dalam penilaian kecerdasan orang dewasa. Pada tahun 1939, dia mempublikasikan skala kecerdasan Wechsler – Bellevue (Wechsler – Bullevue intelligence scale), yang mengkombinasikan subtes verbal dengan nonverbal, atau subtes kemampuan. Sehingga, pada penambahan pada semua skor IQ, orang diberikan perkiraan terpisah IQ verbal dan IQ nonverbal. Setelah beberapa perubahan, tes diberi nama ulang menjadi skala kecerdasan orang dewasa wechsler (wechsler adult intelligence scale) – WAIS pada tahun 1955. hari ini, anda akan mengambil WAIS – III (Wechsler, 1997).
WAIS – III memiliki 14 subtes yang meliputi aspek verbal dan performans dari IQ. Tabel 9.1 memberikan contoh jenis-jenis pertanyaan yang akan anda temukan didalam tes. Subtes verbal mencakup area seperti kosakata dan komprehensi. Subtes performans melibatkan manipulasi materi dan memiliki bentuk atau muatan selain verbal. Jika anda melakukan WAIS – III, maka anda akan menunjukkan rentang subtes penuh, dan menerima 3 skor: IQ verbal, IQ performans, dan keseluruhannya, IQ skala penuh.
WAIS – III didesain untuk orang berusia 16 tahun dan yang lebih tua, tapi tes yang hampir sama telah dikembangkan untuk anak-anak. Wechsler Intelligence Scale for Children – Third Edition / skala kecerdasan wechsler untuk anak-anak edisi ketiga (WISC – III; Wechsler, 2003) disesuaikan dengan usia anak-anak 6 – 16 tahun dan wechsler preschool and primary scale of intelligence – revised / skala kecerdasan wechsler untuk anak usia prasekolah dan sekolah dasar – edisi revisi (WPPSI – III; Wechsler, 2002) untuk anak-anak usia 2 ½ - 7 ¼ tahun. Revisi yang terbaru dari kedua tes ini telah membuat materinya lebih berwarna, lebih kontemporer, dan lebih mengasyikkan bagi anak-anak.
WAIS – III, WISC – IV dan WPPSI – III membentuk tes kecerdasan keluarga yang menghasilkan IQ verbal, IQ performans, dan IQ skala penuh pada semua tingkatan usia. Tambahan, mereka memberikan skor subtes yang dapat diperbandingkan yang memungkinkan peneliti untuk mengikuti perkembangan sepanjang waktu tentang kemampuan intelektual yang lebih spesifik. Untuk alasan ini, skala wechsler sangat bernilai ketika orang yang sama dites pada usia yang berbeda – misalnya, ketika perkembangan anak dalam merespons program pendidikan yang berbeda-beda dimonitor.
Menginterpretasikan skor IQ
Skor IQ tidak lagi diperoleh dengan membagi usia mental dengan usia kronologis. Jika anda melakukan tes hari ini, maka skor anda akan ditambahkan dan secara langsung dibandingkan dengan skor orang lain seusia anda. IQ 100 adalah rata-rata dan akan menyatakan bahwa 50% dari usia anda memperoleh skor yang lebih rendah (lihat gambar 9.2). skor diantara 90 – 110 sekarang dinamai “normal”, dan di atas 120 “superior”.
Ketika seseorang di bawah usia 18 mencapai skor IQ valid 70 – 75 atau di bawahnya, mereka berada pada satu standar untuk sebuah klasifikasi dalam keterhambatan mental (mental retardation). Namun, sebagaimana ditunjukkan pada tabel 9.2, dianggap terhambat secara mental, seseorang juga harus menunjukkan keterbatas kemampuan mereka untuk membawakan keterampilan adaptif (adaptive skills) untuk menanggung tugas-tugas kehidupan (Asosiasi keterhambatan mental Amerika, AAMR, 1992). Pada awal mulanya, skor IQ digunakan untuk mengelompokkan keterhambatan mental ke dalam “ringan”, “sedang”, “berat”, dan “sangat berat” (lihat gambar 9.2). Namun, upaya kontemporer pada ketrampilan adaptif telah mendorong para ahli untuk meninggalkan terminologi tersebut kepada deskripsi yang lebih tepat seperti “ seseorang dengan keterhambatan mental dengan dukungan yang luas dibutuhkan dalam bidang kerampilan sosial dan pengarahan diri” atau “seseorang dengan keterhambatan mental yang membutuhkan dukungan terbatas dalam ketrampilan komunikasi dan sosial” (AAMR, 1992 : 34).
Skor IQ memberikan informasi umum tentang seberapa baik seseorang mampu menampilkan – berkaitan norma-norma sesuai usia – keanekaragaman tugas-tugas verbal dan nonverbal. Pada beberapa contoh, terdapat penyebab yang menjadi perhatian ketika skor IQ dan menunjukkan gagal untuk dibandingkan. Orang yang menampilkan ketidaksesuaian yang cukup besar antara prestasi mereka dengan IQ mereka yang terukur mungkin didiagnosa mengalami gangguan belajar (learning disorder). Sebelum dokter mendiagnosa suatu gangguan belajar, mereka perlu mengendalikan faktor-faktor lainnya yang dapat menyebabkan menurunkan kemampuan seperti motivasi yang rendah, pengajaran yang sedang-sedang saja, atau permasalahan fisik (misal, kekurangan dalam penglihatan). Kebanyakan sekolah memberikan bantuan khusus pada siswa yang telah didiagnosa memiliki gangguan belajar.
C. Teori-Teori Kecerdasan
Sejauh ini, kita telah melihat bebeapa cara diana kecerdasan telah diukur. Sekarang anda berada pada posisi untuk menanyakan pada diri anda sendiri: apakah tes ini mencakup semua kemampuan yang anda yakini merupakan kecerdasan anda sendiri? Untuk membantu anda berpikir tentang pertanyaan tersebut, sekarang kita akan mereview teori-teori tentang kecerdasan. Setelah anda baca tiap teori, maka tanyakan pada diri anda sendiri apakah dukungannya akan membuat nyaman menggunakan IQ sebagai satu ukuran kecerdasan.
• Teori psikometri tentang kecerdasan
Teori-teori psikometri tentang kecerdasan dihasilkan pada suasana filosofis yang sama dengan apa yang dimunculkan pada tes IQ. Psikkometrik adalah bidang psikologi yang dikhususkan pada pengujian mental pada berbagai segi, meliputi penilaian kepribadian, evaluasi kecerdasan, dan pengukuran bakat. Sehingga, pendekatan psikometrik sangat berkaitan dengan metode pengujian. Teori ini menilai hubungan statistik antara ukuran-ukuran kemampuan yang berbeda-beda, seperti subtes 14 dalam WAIS – III, dan kemudian membuat kesimpulan tentang keadaan kecerdasan manusia berdasarkan hubungan tersebut. Teknik yang digunakan seringkali disebut dengan analisis faktor, suatu prosedur statistik yang mendeteksi sejumlah kecil dimensi, kelompok kecil orang, atau faktor-faktor dalam serangkaian variabel-variabel bebas yang lebih besar. Tujuan dari analisis faktor ini adalah untuk mengidentifikasi dimensi psikologis dasar dari konsep yang diselidiki. Tentunya, suatu prosedur statistik hanyalah mengidentifikasi keteraturan statistik; mendorong para psikolog untuk menyatakan dan mempertahankan interpretasi dari keteraturan tersebut.
Charles Spearman melakukan aplikasi awal dan berpengaruh tentang analisis faktor dalam domain kecerdasan. Spearman menemukan bahwa kemampuan seseorang pada setiap keanekaragaman tes kecerdasan sangat terkorelasi. Dari bagian ini dia menyimpulkan bahwa terdapat faktor kecerdasan umum, atau g, yang mendasari semua kemampuan cerdas (Spearman, 1927). Tiap domain individual juga diasosiasikan dengan kemampua spesifiknya yang disebut oleh Spearman s. Misalnya, kemampuan seseorang pada tes kosakata atau aritmatika tergantung baik pada kecerdasan umumnya maupun kemampuan domain – spesifik.
Raymond Cattell (1963), menggunakan teknik analitik faktor yang lebih dikembangkan, menentukan bahwa kecerdasan umum dapat dibagi ke dalam dua komponen yang relatif independen, yang disebutnya kecerdasan kristalisasi dan kecerdasan cairan. Kecerdasan kristalisasi (crystallized intelligence) melibatkan pengetahuan seseorang yang telah diperoleh dan kemamuan untuk memperoleh pengetahuan, diukur dengan tes kosakata, aritmatika dan informasi umum. Kecerdasan cairan (fluid intelligence) adalah kemampuan untuk melihat hubungan yang kompleks dan memecahkan masalah, diukur dengan tes desain blok dan visualisasi spatial dimana informasi latar belakang diperlukan untuk memecahkan suatu masalah sudah termasuk dan jelas kelihatan. Kecerdasan kritalisasi memungkinkan anda untuk mengatasi kehidupan anda yang terus berulang, tantangan konkret, kecerdasan cairan membantu anda mengatasi masalah baru, abstrak.
J. P. Guilford (1961) menggunakan analisis faktor untuk menilai tuntutan dari berbagai tugas yang berkaitan dengan kecerdasan. Model struktur intelek-nya menspesifikkan tiga ciri-ciri tugas intelektual: muatan (content), atau jenis informasi; produk (product), atau bentuk dimana informasi ditampilkan; operasi (operation), atau jenis aktivitas mental yang ditunjukkan.
Sebagaimana yang ditunjukkan pada gambar 9.3, tedapat lima jenis muatan dalam model ini – visual, auditori, simbolik, semantik, dan perilaku / behavioral; enam jenis produk – unit, kelas, hubungan, sistem, transformasi, dan implikasi; dan lima jenis operasi – evaluasi, produksi konvergen, produksi divergen, memori, dan kognisi. Tiap tugas yang ditampilkan oleh intelek dapat diidentifikasi sesuai dengan jenis muatan, produk, dan operasi tertentu yang dilibatkan. Lebih lanjut, Guilford yakin bahwa tiap kombinasi muatan – produk – operasi (tiap kubus kecil dalam model) menampilkan kemampuan mental yang jelas. Misalnya, sebagaimana yang ditunjukkan gambar 9.3, suatu tes kosakata akan menilai kemampuan anda untuk unit kognisi dengan muatan semantik. Mempelajari suatu tarian secara rutin, dengan maksud lain, memerlukan memori untuk sistem behavioral.
Model teoritik ini analog dengan tabel periodik unsur kimia. Maksudnya beberapa kerangka sistematik, faktor-faktor intelektual, seperti unsur-unsur kimia, dapat dipostulatkan sebelum mereka ditemukan. Pada tahun 1961, ketika Guilford mengemukakan modelnya, hampir 40 kemampuan intelektual telah diidentifikasi. Para peneliti sampai sekarang telah menghitung lebih dari 100, yang menunjukkan nilai yang dapat diprediksi dari konsepsi guilford tentang kecerdasan (Guilford, 1985).
Seelah Guilford, banyak psikolog mengembangkan konsepsi mereka tentang kecerdasan untuk mencakupi lebih banyak kemampuan daripada tes IQ tradisional. Sekarang kita menguji dua jenis teori yang mendasari IQ.
• Teori Kecerdasan Triarkik Sternberg (Sternberg’s Triarchic Theory of Intelligence)
Robert Sternberg (1985, 1999) juga menekankan pentingnya proses kognitif dalam memecahkan masalah sebagai bagian dari teorinya yang lebih umum tentang kecerdasan. Sternberg mengumukan teori triarkik – tiga bagian. Ketiga jenis kecerdasannya, analitik, kreatif dan praktik, semua menunjukkan cara yang berbeda-beda dalam mengkarakteristikkan kemampuan efektif.
Kecerdasan analitik memberikan ketrampilan pemrosesan informasi dasar yang orang terapkan pada sebagian besar tugas kehidupan yang hampir sama. Jenis kecerdasan ini didefinisikan oleh komponen, atau proses mental, yang mendasari proses berpikir dan memecahkan masalah. Sternberg mengidentifikasi tiga jenis komponen yang merupakan pusat dari pemrosesan informasi : (1) komponen kecakapan pengetahuan, untuk mempelajari fakta-fakta baru, (2) komponen kemampuan, untuk strategi dan teknik-teknik memecahkan masalah, dan (3) komponen metakognitif, untuk memilih strategi dan memonitor kemajuan ke arah sukses. Untuk menempatkan beberapa kecerdasan analitik anda, maka kami ingin anda sekarang mencoba latihan pada tabel 9.3.
Bagaimana yang anda lakukan pada anagram? Untuk menyelesaikan anagram ini, anda sangat perlu menggunakan komponen kemampuan dan kemampuan metakognitif. Komponen kemampuan adalah sesuatu yang memungkinkan anda untuk memanipulasi huruf-huruf di kepala anda; komponen metakognitif adalah sesuatu yang memungkinkan anda untuk mendapatkan strategi untuk menemukan solusi. Perhatikan huruf T – R – H – O – S. Bagaimana anda dapat mentransformnya secara mental menjadi SHORT? Satu strategi yang bagus untuk memulai adalah dengan mencoba mengelompokkan konsonan yang mungkin ada dalam bahasa Inggris – seperti S – H dan T – H. Memilih strategi memerlukan komponen metakognitif; untuk mendapatkannya maka memerlukan komponen kemampuan. Ingat, bahwa strategi yang bagus kadang kala bisa saja gagal. Perhatikan T – N – K – H – G – I. Apa yang membuat anagram ini sukar bagi kebanyakan orang adalah K – N bukanlah satu kombinasi yang baik untuk memulai sebuah kata, sebaliknya T – H. Apakah anda pandangi anagram ini sebentar, cobalah beralih dengan permulaan kata T – H?
Dengan memecah beragam tugas menjadi komponen-komponennya, para peneliti dapat menunjukkan proses dengan tepat yang membedakan hasil kemampuan individu dengan IQ yang berbeda-bea. Misalnya, peneliti mungkin menemukan bahwa komponen metakognitif siswa dengan IQ tinggi mendorong mereka untuk memilih strategi yang berbeda untuk memecahkan satu jenis permasalahan tertentu daripada apa yang dilakukan oleh teman sebayanya yang memiliki IQ lebih rendah. Perbedaan dalam pemilihan strategi terhitung pada siswa dengan IQ lebih tinggi berhasil memecahkan masalah.
Kecerdasan kreatif membedakan kemampuan seseorang ke dalam dua bentuk ekstrem: masalah yang baru dan sangat biasa terjadi. Misalnya, seandainya sekelompok orang menemukan diri mereka sendiri terdampar setelah satu kecelakaan. Maka anda akan percaya dengan kecerdasan seseorang di dalam kelompok yang dapat paling cepat membantu kelompok menemukan jalan untuk pulang. Pada keadaan yang lain, anda akan dikenal sebagai orang cerdas, perilaku dari orang yang mampu menampilkan tugas-tugas biasa secara otomatis. Misalnya, jika sekelompok orang melakukan tugas yang sama dari hari ke hari, maka anda akan begitu terkesan dengan orang yang dapat melengkapi tugasnya dengan sukses dengan jumlah pengajaran yang baru paling sedikit.
Kecerdasan praktik direfleksikan dalam managemen pekerjaan dari hari ke hari. Ini melibatkan kemampuan anda untuk mengadaptasi konteks yang baru dan yang berbeda, memilih konteks yang tepat, dan bentuk lingkungan anda yang efektif sesuai kebutuhan anda. Kecerdasan praktik adalah apa yang orang kadang kala sebut dengan cara cerdas atau naluri bisnis. Penelitian telah menunjukkan bahwa orang bisa memiliki kecerdasan praktik yang tinggi tanpa IQ yang tinggi.
Karena tiap kuda menampilkan kombinasi variabel yang baru sepanjang keanekaragam dimensi (kecepatan seumur hidup, pendapatan seumur hidup, kondisi pacuan, kemampuan joki, dan beberapa lainnya), keberhasilan orang yang ahli tidak dapat diatributkan hanya pada pengulangan situas yang sama. Bahkan, mereka telah mengembangkan kemampuan yang menakjubkan secara spesifik sesuai dengan lingkungan mereka.
• Kecerdasan Ganda dan Kecerdasan Emosional Gardner
Howard Gardner (1983, 1996) juga mengemukakan teori yang mengembangan definisi tentang kecerdasan yang mendasari keterampilan yang dicakup dalam tes IQ. Gardner mengidentifikasi begitu banyak kecerdasan yang meliputi satu rentang pengalaman manusia. Nilai dari suatu kemampuan berbeda-beda diantara kelompok masyarakat manusia, sesuai dengan apa yang dibutuhkan, kegunaan, dan penghargaan yang diberikan oleh suatu masyarakat. Sebagaimana yang ditunjukkan pada gambar 9.4, Gardner megidentifikasi delapan kecerdasan.
Gardner mengemukakan bahwa masyarakat barat meningkatkan dua kecerdasan yang pertama, sementara masyarakat non-barat selalu menilai yang lainnya. Misalnya, di pulau Caroline Micronesia, para pelaut harus bisa menavigasi jarak jauh tanpa peta, hanya dengan menggunakan kecerdasan spatial mereka dan kecerdasan kinestetik tubuh mereka. Beberapa kemampuan terhitung lebih banyak di masyarakat itu daripada kemampuan untuk menuliskan satu istilah di kertas. Di Bali, dimana kemampuan artistik merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, kecerdasan dalam hal musik dan talenta dilibatkan dalam mengkoordinasi langkap-langkah tarian yang sulit yang sangat dihargai. Kecerdasan interpersonal lebih terpusat pada masyarakat petani kolektif seperti di Jepang, dimana gotong royong dan kehidupan kemasyarakatan lebih ditekankan, daripada masyarakat individualis seperti di Amerika Serikat (triandis, 1990).
Dalam menilai kecerdasan ini lebih banyak tuntutan daripada tes yang hanya menggunakan kertas dan pensil dan ukuran yang dihitung dengan sederhana. Teori Gardner tentang kecerdasan diperlukan ketika seseorang yang diamati dan dinilai berada dalam sebuah keanekaragaman situasi hidup sebagaimana bagian kecil dalam hidup yang digambarkan dalam tes kecerdasan tradisional.
Pada tahun-tahun terakhir, para peneliti telah mulai mengeksplorasi satu jenis kecerdasan – kecerdasan emosional (emotional intelligence) – yang dikaitkan dengan konsep Gardner tentang kecerdasan interpersonal dan intrapersonal (lihat tabel 9.4). kecerdasan emosional didefinisikan sebagai kepemilikan atas empat komponen utama (Mayer & Salovey, 1997; Mayer dkk, 2000):
 Kemampuan untuk menerima, menghargai dan mengekspresikan emosi secara akurat dan tepat.
 Kemampuan untuk menggunakan emosi untuk memfasilitasi berpikir.
 Kemampuan untuk memahami dan menganalisis emosi dan menggunakan pengetahuan emosional secara efektif.
 Kemampuan untuk meregulasi emosi seseorang untuk mendorong perkembangan baik emosional maupun intelektual.
Definisi ini merefleksikan satu pandangan baru tentang peran positif dari emosi sebagaimana ini dihubungkan dengan pemfungsian intelektual – emosi dapat membuat berpikir lebih cerdas, dan seseorang dapat berpikir dengan cerdas tentang emosi mereka dan yang terjadi pada orang lain.
Para penelti telah mulai menunjukkan bahwa kecerdasan emosional memiliki konsekuensi penting untuk kehidupan sehari-hari.
Anda mungkin dapat melihat bagaimana semua bagian ini diasangan bersamaan. Orang yang memiliki kecerdasan emosional memungkinkan mereka untuk mengalami distres yang lebih rendah dan moral yang baik juga cenderung lebih efektif dalam pekerjaan mereka. Peneliti yang sama sekarang ini mencoba mengimplementasikan satu program latihan untuk meningkatkan kecerdasan emosional dari manager-manager yang memiliki EQ rendah.
Review kami tentang pengujian kecerdasan dan teori kecerdasan menyusun tahapan untuk satu pembahasan tentang keadaan sosial yang membuat topik tentang kecerdasan sehingga begitu kontroversial.
D. Hubungan Intelek Dengan Tingkah Laku
Kemampuan berfikir abstrak menunjukkan perhatian seseorang terhadap kejadian dan peristiwa yang tidak kongkrit, misalnya ; pilihan pekerjaan, corak hidup bermasyarakat, pilihan pasangan hidup yang sebenarnya masih jauh didepannya. Bagi remaja, corak perilaku pribadinya dihari depan, dan corak tingkah lakunya sekarang akan berbeda. Kemampuan abstrak akan berperan dalam perkembanangan kepribadiannya.
Kemampuan abstraksi mempermasalahkan kenyataan dan peristiwa-peristiwa dengan keadaan bagaimana yang semestinya menurut alam pikirannya. Situasi ini (yang diakibatkan kemampuan abstraksi) akibatnya dapat menimbulkan perasaan tidak puas dan putus asa.

Disamping itu organ sentris masih terlihat dalam pikirannya.
1) Cita-cita dan idialisme yang baik, terlalu menitik beratkan pikiran sendiri tanpa memikirkan akibat lebih jauh, dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin menyebabkan tidak berhasilnya menyelesaikan persoalan.
2) Kemampuan berfikir dengan pendapat sendiri, belum disertai pendapat orang lain dalam penilaiannya. Masih sulit membedakan pokok perhatian orang lain daripada tujuan perhatian diri sendiri. Pandangan dan penilaian diri sendiri dianggap sama dengan pandangan orang lain mengenai dirinya.
Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi pendapat orang lain, maka egosentrisme berkurang. Pada akhirnya pengaruh egosentrisitas pada remaja sudah sedemikian kecilnya, sehingga berarti remaja sudah dapat berfikir abstrak dengan mengikut sertakan pandangan dan pendapat orang lain.
E. Karakteristik Perkembangan Intelek Remaja
Intelegensi pada remaja tidak mudah diukur karena tidak mudah terlihat perubahan kecepatan perkembangan kemampuan tersebut. Pada umumnya tiga sampai empat tahun pertama menunjukkan perkembangan kemampuan yang hebat, selanjutnya akan terjadi perkembangan yang teratur.
Pada masa remaja kemampuan untuk mengatasi masalah yang majemuk bertambah. Pada masa awal remaja, kira-kira pada usia 12 tahun, anak berada pada masa yang disebut " Masa oerasi formal" (berfikir abstrak). Pada masa ini remaja telah berfikir dengan mempertimbangkan hal yang mungkin; disamping hal yang nyata (riil) (Gliedmen, 1986 : 475-475)
Pada usia remaja ini anak sudah dapat berfikir abstrak dan hitotek. Dalam berfikir operasional formal, setidak-tidaknya mempunyai dua sifat yang penting, yaitu ; 1. Sifat deduktif hipotesis, 2. berfikir opersional juga berfikir kombinatoris.
1) Sifat Deduktif Hipotesis
Dalam menyelesaikan suatu masalah, seorang remaja akan mengawalinya dengan pemikiran teoritik. Yang menganalisis masalah dan mengajukan cara-cara penyelesaian hipotesis yang mungkin. Pada dasarnya pengajuan hipotesis itu menggunakan cara berfikir induktif disamping deduktif. Oleh sebab itu dari sifat analisis yang ia lakukan, ia dapat membuat strategi penyelesaian. Analisis teoritik ini dapat dilakukan secara verbal. Anak lalu mengajukan pendapat-pendapat atau prediksi tertentu, yang juga disebut proporsi-proporsi. Kemudian mencari hubungan antra proporsi Yang berbeda-beda tadi.Berhubungan itu maka berpikir operasional juga disebut proposisional.
2) Berpikir Operasional juga Berpikir Kombinatoris
Sifat ini merupakan kelengkapan sifat yang pertama dan berhubungan dengan cara melakukan analis. Misalnya anak diberi lima buah gelas berisi cairan tertentu. Anak yang berpikir operasional formal, lebih dahulu Suatu kombinasi cairan ini membuat cairan tadi berubah warna. Anak diminta untuk mencari kombinasi ini.
Secara teoritik membuat matriksnya mengenai segala macam kombinasi yang mungkin, secara sistematik mencoba mengisi setiap sel matriks tersebut secara empiris.Bila ia mencapai penyelesaian yang betul, mak ia juga akan segera dapat memproduksi.
Seorang remaja dengan kemampuan berpikir normal tetapi hidup dalam lingkungan atau kebudayaan yang tidak merangsang cara berpikir, misalnya tidak adanya kesempatan untuk menambah pengetahuan, pergi ke sekolah tetapi tidak adanya pasilitas yang dibutuhkan, maka remaja itu sampai dewasa pun tidak akan sampai pada taraf berpikir abstrak.
3) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi perkembangan Intelek
Dalam hubungannya dengan perkembangan intelegensi/kemampuan berpikir remaja, ada yang berpandanganbahwa adalah keliru jika IQ dianggap bisa ditingkatkan, yang walaupun perkembangan IQ dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan. Menurut Andi Mappiare (1982: 80) hal-hal yang mempengaruhi perkembangan intelek itu antara lain:
1) Bertabahnya informasi yang disimpan(dalam otak)seseorang sehingga ia mampu berpikr reflektif.
2) Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah sehingga seseorang bisa berpikir proporsional.
3) Adanya kebebasan berpikir,menimbulkan keberanian seseorang dalam menyusun hipotesis-hipotesis yang radikal, kebebasan menjajaki masalah secara keseluruhan, dan menunjang keberanian anak memecahkan masalahdan menarik kesimpulan yang baru dan benar.
Tiga kondisi di atas sesuai dengan dasar-dasar teori Piaget mengenai perkembangan intelegendi, yakni:
1) Fungsi intelegensi termasuk proses adaptasi yang bersifat biologis.
2) Berkembangnya usia menyebabkan berkembangnya struktur intelegensi baru, sehingga pengaruh pula terhadap terjadinya perubahan kualitatif.
Wechsler berpendapat bahwa keseluruhan intelegensi seseorang tidak dapat diukur. IQ adalah suatu nilai yang hanya dapat ditentukan secara kira-kira karena selalu dapat terjadi perubahan-perubahan berdasarkan faktor-faktor individual dan situasional.
Peranan Pengalaman dari Sekolah Terhadap Intelegensi
Sejauh mana pengalaman meningkatkan intelegensi anak?Penelitian tentang pengaruh taman indria terhadap IQ telah dilaporkan oleh Wellman (1945) berdasarkan 50 kasus studi. Rata-rataa tingkat IQ asal mereka adalah da atas 110. Merka yang mengalami prasekolah sebelum sekolah dasar, menunjukan perbedaan kemajuan atau ”gained”, dalam rata-rat IQ mereka lebih besar daripada mereka yang tidak mengalami prasekolah.Perbedaan kemajuan nilai rata-rata IQ bagi mereka yang baru satu tahun saja belajar (bersekolah pada pra-sekolah)adalah 5,4 skala IQ per seorang siswa. Angka ini jauh lebih tinggi daripada siswa-siswa yng tidak memasuki prasekolah sebelumnya, yaitu menunjukan rata-rata hanya mengalami perubahan nilai I hanya sebesar 0,5 skala IQ perseorang siswa.
4. KESIMPULAN
Terjadinya perkembangan remaja bukan hanya perkembangan pada biologisnya semata akan tetapi juga berkembang pada mental dan kepribadiannya. yang tercakup dalam perkembangan individual remaja didik adalah kecerdasan, emosional dan intelektualnya termasuk perkembangan bahasanya.
Tatkala kita membahas tentang perkembangan individu / peserta didik dalam proses pembelajaran maka akan kita dapatkan ranah-ranah atau domain-domain : Kognitif, Affektif dan Psikomotorik, sebagai alat untuk mengukur berhasil tidaknya proses pembelajaran di kelas.,

DAFTAR PUSTAKA
Cahyani Ani. Mubin, 2006. Psikologi perkembangan; cet I (Quantum Teaching, Ciputat Press Group,

Dariyo, Agoes. 2007. Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama. Bandung : Erlangga.

Gerrig Richard J & Zimbardo Philip G. 2005. Psychology and Life, USA., Monotype Composition, Inc.

Hurlock B Elizabeth, Developmental Psychologyi; Mc Grow Hill, Inc, 1980, Alih Bahasa, Istiwidayanti dan sudjarwo, Psikologi Perkembangan, Jakarta, Erlangga, 1995.

Jujun S. Sumiasumantri (ed). 1985., Ilmu dalam Prespektif, Jakarta: Gramedia, cet. 6.

LN Yusuf Syamsu; 2002. Psikologi Perkembangan Remaja dan Remaja, Bandung : Remaja Rosdakarya.

Mahmud, Dimyati M, 1989, Psikologi : Suatu pengantar, Jakarta, Depdikbud Dirjen Dikti.

Nurihsan Juntika, 2007, Buku Materi Pokok Perkembangan Peserta didik , Bandung; Sekolah Pasca Sarjana (UPI)

Santrock, John W, Life-Span Development, WM, C Brown Comunication, Inc, 1995, Alih bahasa Achmad Chusairi, S.PSI, Perkembangan Masa Hidup Jilid I, Jakarta, Erlangga, 2002.

S.P Reid, 2006, Berfikir Strategis, Jakarta, PT Bhuana Ilmu Populer/Kelompok Gramedia.

MAKALAH
PERKEMBANGAN INTELLIGENCE QUOTIENT (IQ) PADA REMAJA DAN PENILAIANNYA BERKAITAN DALAM BIDANG PENDIDIKAN


Disusun sebagai tugas mata kuliah Orientasi Baru dalam Psikologi
Dosen pengampu : Dr. Asep Supena








Oleh :

Mansur
No. Reg 721 6080542









PENDIDIKAN OLAHRAGA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar